Selamat menonton, jangan lupa baca juga!
Wednesday, January 2, 2019
Saturday, September 29, 2018
Malaysia Legalkan Ganja, Indonesia kapan dong?
Baru-baru ini kita tahu bahwa negara tetangga, Malaysia, akan melegalkan
Ganja untuk medis. Negeri Jiran itu mengklaim akan menjadi negara pertama yang
memanfaatkan Ganja Medis di Asia Tengga ini. Rencana legalisasi ini muncul
karena warga Malaysia, Muhammad Luqman (29), ditankap karena menperdagangkan
minyak ganja untuk penyembuhan pasien kangker dan dijerat hukuman mati.
Di Indonesia kita tentunya tahu dengan Fidelis Ari, si pembuat obat
untuk istrinya yang menderita kangker sumsum tulang belakang dengan Ganja di
2017 silam. Kasusnya menjadi polemik diseluruh negeri ini, namun tindakan dari Badan
Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian tetap kosisten bahwa Ganja tidak bisa
dijadikan obat dengan alasan apapun sehingga Fidelis Ari pun harus masuk bui.
Dan istri tercintanya pun meninggal setelah 32 hari Fidelis mauk penjara,
sungguh miris bukan?
Sangat bertolak belakang dengan Malaysia, ketika ada kasus yang hampir
sama, Ganja untuk Medis, tapi negaranya menyikapi dengan berbeda. Di sana, Menteri
Air, Tanah dan Sumber Daya Alam, Xavier Jayakumar, membuka pemikirannya bahwa
tujuan dari legasisasi ganja itu untuk pengobatan, dan mengarahkan untuk
memberikan perijinan pemakaian Ganja serta pengendaliannya oleh Menteri
Kesehatan.
Di Indonesia, izin riset untuk Ganja sudah ada dari tahun 2015 tapi
Kementrian Kesehatan dan Negara tidak mau membiayai dengan alasan biaya
penelitian mahal dan income dari
hasil penelitiannya tidak sebanding dengan biaya risetnya. Intinya, Menteri
Kesehatan takut rugi dengan adanya riset Ganja.
Padahal, Malaysia, negara yang 12 tahun lebih muda dari Indonesia untuk
kemerdekaanya. Dari segi kekayaan alamnya pun Indonesia jauh lebih banyak
dibanding negeri tetangga itu. Tapi, kenapa di Indonesia masih tabu untuk
berbicara tentang ganja? Bahkan di internal BNN-nya pun sangat gemar memberikan
informasi negatif tentang Ganja padahal belu ada riset sama sekali, lucunya
negeri ini.
Sudah saatnya Menteri Kesehatan dan Negara membiayai riset Ganja untuk kebutuhan
medis, mengingat pasien Kangker di Indonesia sudah mencapai 347.792 jiwa (Data
Kemenkes 2013) dan Ganja dapat menyembuhkan Kangker. Bijaknya, kalau Presiden,
Yudikatif, dan Legislatif cinta dengan bangsa dan warganya maka legalkanlah
Ganja sehingga para penderita kangker akan terbebas dari mahalnya kemotrapi kemudian mereka bisa sembuh.
-
Fikri Akbar Dinillah
Monday, August 6, 2018
APA AKU MEMANG BENAR-BENAR TELAH BENAR?
Melihat realita
di era globalisasi ini, penerimaan informasi begitu pesat dan cepat. Bukan
hanya litas kampung saja tetapi sudah lintas budaya bahkan negara. Siapa disini
yang tidak mempunyai gadget? Membaca artikel sederhana ini juga pasti melalui
gadget, kan? Hampir setiap partikel dimasyarakat mempunyai gadget yang
berisikan kuota dimana mereka menggunakannya untuk bermedia sosial, mencari
informasi dari berbagai belahan dunia ini.
Jangan
jauh-jauh di dunia kampus saja, para mahasiswa bukan hanya berasal dari daerah
tempat kampus itu berdiri. Ada dari kampung, kota, provinsi, pulau bahkan
negara yang bebeda ada di dunia kampus. Tentunya, proses peleburan dan
percampuran budaya, nilai, norma lebih cepat terjadi di dunia kampus.
Dalam
lingkungan kampus UIN Bandung saja khususnya di jurusan Bimbingan dan Konseling
Islam, ada beberapa mahasiswa yang diluar kota Bandung bahkan di luar negeri
seperti Malaysia dan Thailand.
Proses
interaksi antar individu terjadi disana, harusnya membuat cara pandang menjadi
luas dan lebih toleran. Literasi antar budaya katanya bukan melulu melalui buku
dan tulisan. Tetapi bertatap langsung, berdiskusi di waktu senja dalam suatu
tema atau bukan dianggap menjadi proses literasi.
Dunia kampus
“mengkampanye” kan proses literasi, buktinya hampur setiap tugas harus
memuatkan referensi dari buku, jurnal, atau penelitian ilmiah. Proses literasi
harusnya berorientasi kepada pendidikan. Dimana pendidikan itu sebagai ajang
untuk memperkaya diri dari segi kognitif, sehingga berimplikasi kepada
peningkatan apektif dan psikomotor yang lebih baik.
Kemudian, sudah
jauh hari ada sebagian orang di dunia kampus membuat perkumpulan sesuai daerah,
hobi, bakat, minat dll. nya agar memudahkan mengordinir apa keinginan kelompok
tersebut. Membuka lahan diskusi dengan tunjuan proses pendidikan literasi lebih
terjalin.
Ketika lintas
budaya terjalin, ditambah perkembangan kognitif dan apektif dari proses
pendidikan terus berlangsung. Implikasi yang diharapkan bagi para mahasiswa
yaitu mereka lebih “oped minded” terhadap multi-perspektif terhadap
suatu pendapat atau masalah.
Ketika seorang
mahasiwsa -katakan A- menanggapi suatu
problem -katakanlah problematika politik kampus- kemudian dia memberikan suatu
tanggapan dan pendapat atas problematika itu dan memperkuat argumennya dengan
kutipan-kutipan dari tokoh yang menurut dia relevan dengan prolem tersebut.
Ditambah hasil diskusi bulanan ataupun harian yang diagendakan oleh dia dengan
temannya untuk memperkuat argumennya dalam menanggapi promblematika tersebut.
Disisi sana, ada seseorang yang lain -katakan B- menanggapi problematika
tersebut dengan cara pandang yang bebeda, dan metodenya pun berbeda namun tak
menghilangkan substansinya yaitu memecahkan prolem tersebut. Ketika proses
literasi berhasil, maka dua orang berbeda ini akan saling melengkapi dan saling
memberikan support untuk terpecahnya masalah tersebut.
Namun tak
sedikit, dikasus yang sama, A merasa pendapatnya paling benar, dan layak untuk
diterapkan untuk menjadi problem soving. Ini juga terjadi di B, dia
merasa pendapatnya benar dan bisa untuk menjadi prolem solving. Kemudian
tidak terjadi saling men-support atau mengkolaborasikan pendapatnya.
Tetapi, A merasa paling benar dan menyebutkan bahwa pendapat yang lain tidak
relevan untuk diterapkan kemudian mengkoreksi pendapat yang tak sejalur itu.
Begitupula yang lain, melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh A.
Penulis membuat hipotesa bahwa di momen seperti diataslah, terjadi cikal bakal
perpecahan. Kemudian pertanyaanya sudah berhasilkan proses dari literasi? Atau
malah selama ini yang terjadi adalah proses indoktrinasi?
Monday, July 9, 2018
Aku sih tau, Kamu mau tau gak?
Apa sih yang kawan-kawan pikirkan kalo denger kata “ganja”? Apa yang kawan-kawan tahu tentang ganja? Menurut kawan-kawan ada ga sih manfaat ganja bagi manusia? Atau ganja cuman bikin manusia rugi aja?
Mungkin artikel ini akan menjawab beberapa
pertanyaan yang lumrah dan sederhana diatas dengan kata yang singkat, lugas dan
mudah-mudahan dapat dicerna dengan mudah oleh pikiran dan hati para pembaca.
Kita hidup
di negeri yang sangat kaya akan budaya, bahasa, adat istiadat, suku begitupun
dengan flora dan faunanya. Salahsatu flora yang tak asing kita dengar di
berita-berita kriminal yaitu ganja, otomatis mendengar kata “ganja” langsung
berpikir “ini tindakan kriminalitas”. Karena ganja selalu diberitakan di layar
tv kita sebagai kegiatan kriminalitas. Konotasi pemikiran ketika mendengar kata
“ganja” juga, sebagian besar rakyat Indonesia menuju ke arah narkotika, bukan?
Padahal, itu hanya tanaman yang diciptakan Tuhan dibumi dengan kompleks untuk
menjaga ekosistem dan memperkaya bumi pertiwi. Jelas, hewan dan tumbuhan di
bumi ini diciptakan Tuhan untuk dikonsumsi oleh manusia, ini termaktub dalam Al
Kitab (Kejadian 1:29) Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan
kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala
pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Konteks
menjadi makananmu yaitu, bisa dikonsumsi oleh manusia, karena Tuhan menciptakan
segala sesuatu tentunya beserta manfaat dari ciptaan-Nya, termasuk ganja. Tuhanpun
berfirman dalam Al-Qur’an, "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi,
dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah” (Q. S. Shad [38]: 27).
Yang jadi
petanyaannya, apakah benar ada manfaat dari tanaman yang dilabeli haram ini?
Kalo mengacu terhadap firman Tuhan, harusnya ada hikmah dari semua yang
diciptakan Tuhan untuk manusia ini. Kalo sebagai orang yang percaya akan adanya
Tuhan, maka akan percaya kalo Tuhan menciptakan ganja dengan manfaat dan hikmah
didalamnya. Sebuah negara “mantan” penjajah di Indonesia, Belanda, membuat
suatu riset dan penelitian tentang taman yang dilabeli haram di Indonesia ini
sebagai tanaman untuk medis. “Medical Marijuana” ini sudah berlangsung lama di
negeri Kincir Angin tersebut, bahkan menjamur hingga Kanada, Amerika, Israel dan
negara tetangga Australia sudah memanfaatkan ganja ini sebagai obat untuk
berbagai penyakit seperti asma, kangker, diabetes, tumor dan lain sebagainya. Pasti
kaget dan mikir “ini absurd!”. Tapi ingatlah kawan, ini merupakan hasil riset
dai negara yang sudah memanfaatkan tanaman ini untuk medis.
Adapun di
Indonesia, penulis melakukan observasi dan wawancara dari beberapa orang yang
memang dia secara diam-diam menggunakan marijuana sebagai obat. Salahsatunya
kawan kita (tak ingin disebutkan namanya) dari Batam, seorang penderita kangker
usus stadium satu. Dia menceritakan awal mula nya ada teman yang mengatakan
bahwa penyakitnya bisa sembuh dengan cara: Lu isep weed pagi hari, terus
olahraga kaya lari, terus renang, dari hawa yang panas ke dingin atau
sebaliknya, terus malemnya sebelum tidur lu bakar lagi. Begitu terus dan
kosisten selama dua tahun, kemudian check up ke dokter. Kata dokter “Kok bisa
hilang, bapak ini memakau obat apa?”. Kawan kita hanya tersenyum dan bilang,
“ini kekuasaan Tuhan dok”. Kemudian, ada kawan yang berasal dari Bandung, dia
mempunyai asma turunan. Namun, hal itu berubah ketika lingkungannya mengajarkan
dia untuk mengkonsumsi ganja. Setelah dua tahun, dia tak berobat dengan
penyakitnya, namun asma itu hilang dan tak kembali kambuh hinggal 7 tahun
kemudian. Setelah itu, kawan kita mencari tahu lebih dalam tentang ganja,
akhirnya dia tau bahwa asmanya hilang karna ganja.
Dan ganja
bukan hanya untuk obat aja, tapi banyak manfaat untuk industri lainnya. Tau
canvas kan? Nah ini hasil dari serat ganja loh, Canvas merupakan produk hasil
dari serat ganja, dan pertama adanya canvas itu menang dari serat ganja,
barulah diganti dengan bahan lain seiring dengan diilegalkannya ganja. Kemudian
biji dari ganja bisa menjadi sumber nabati dan minyak. Dan banyak sekali produk
yang bisa dibuat dari tanaman yang dikriminalisasi ini. Baik ya ganja, meskipun
dia sekarang dikriminalisasi, tapi dia tak marah, tak punah dan terus
berkontribusi bagu manusia.
Namun,
jangan salah loh, ada juga kerugian dari tanaman ini untuk manusia. Penulis melihat
dari presfektif lain tentang kerugian ganja menurut berita yang lumrah di
masyarakat saat ini. Setelah melakukan diskusi, obersvasi, dan literasi, memang
ganja banyak merugikannya. Ketika ganja digunakan oleh manusia dan itu legal,
maka berapa ratus perusahaan farmasi yang akan gulung tikar? Perusahaan kapas
dan kertas mana yang tak akan memberikan lagi pajak terhadap negara ketika
ganja itu legal? Rumah sakit mana yang merasa rugi karena kemoterapi sudah
mulai ditinggalkan? Industri textile mana yg akan bangkrut? Dan ketika semuanya
tutup, negara akan merauk keuntungan dari mana? Apabila tanaman sakral ini
dilegalkan di Indonesia. Berapa juta kerugian yang akan berdampak pada
sekelompok orang yang “menguasai” negara demi kepentingannya sendiri agar dapat
keuntungan?. Ganja memang tanaman yang multifungsi, dan menjadi musuh bagi
sekelompok orang yang mencari keuntungan dari ilegalnya ganja.
Maka dari
itu, kami, Lingkar Ganja Nusantara mengajak kawan-kawan semua setidaknya
sedikit melek tentang tanaman yang diciptakan oleh Tuhan ini. Mencari tahu
manfaat dan andil taman ini bagi kehidupan manusia, sehingga banyak dari kawan,
teman, rekan, dan sahabat ikut bergabung menyuarakan bahwa ganja bukan tanaman
haram. Tapi dia dikriminalisasi oleh sebagian elite politik yang merasa
“gersang” ketika ganja dilegalkan di setiap negara. Bahkan harapan kami ketika sudah
banyak kawan dan sahabat yang peduli dengan tanaman Tuhan, pemerintah akan
melakukan deregulasi UU Narkotika No.35 Tahun 2009 tentang penurunan golongan
bahkan penghapusan tanaman ganja dari UU tersebut agar bisa dimanfaatkan oleh
kita sebagai sesama ciptaan Tuhan
Subscribe to:
Posts (Atom)





